Efektivitas proses fiksasi zat warna indigosol dengan larutan sisa HCl dan NaNO₂
DOI:
https://doi.org/10.31941/canting.v2i1.323Keywords:
Ketahanan Luntur Warna, Larutan Sisa HCl, Larutan Sisa NaNO2, Proses Fiksasi, Zat Warna IndigosolAbstract
Industri batik memerlukan proses fiksasi zat warna untuk meningkatkan ketahanan warna pada kain. Salah satu zat warna yang banyak digunakan adalah Indigosol, yang fiksasinya melibatkan asam klorida (HCl) dan natrium nitrit (NaNO₂). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas larutan sisa HCl dan NaNO₂ dalam proses fiksasi batik tulis, guna mengoptimalkan penggunaan bahan kimia, mengurangi limbah industri, dan menekan biaya produksi. Metode yang digunakan meliputi observasi, eksperimen, dan studi literatur, dengan perbandingan 1:1 antara larutan sisa HCl dan NaNO₂. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara kimiawi, walaupun larutan sisa mengalami sedikit penurunan konsentrasi reagen aktif, fiksasi tetap terjadi melalui reaksi diazotasi dan kopling warna, menghasilkan ikatan azo yang stabil. Warna hasil pewarnaan masih kuat dengan rata-rata ketahanan luntur terhadap pencucian dan paparan sinar matahari berada pada nilai 4–5 pada grey scale dan staining scale. Meski intensitas warna sedikit menurun dibandingkan penggunaan larutan baru, hasilnya tetap memenuhi standar kualitas industri. Dengan demikian, larutan sisa HCl dan NaNO₂ memiliki potensi besar untuk digunakan kembali, mendukung praktik produksi batik yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.
References
Nurrohmah S. Peranan Batik Pekalongan Sebagai Budaya Lokal Bangsa Dalam Pengembangan Industri Kreatif. Pros. Semin. Nas. Progr. Stud. Tek. Busana, Yogyakarta: Fakultas Teknik UNY; 2009, hal. 25–30.
Hamidin AS. Batik Warisan Budaya Indonesia. Yogyakarta: Medpress Digital; 2022.
Maghfiroh M, Mutadin M, Astuti SP. Analisis Kualitas Dan Ketahanan Luntur Warna Batik Hasil Proses Reuse Sisa Larutan Celup Zat Warna Sintetis Golongan Bejana Menuju Green Industry. J PENA 2020;34:24–31.
Khamidah KN, Maghfiroh M, Lestari R. Pengaruh perendaman larutan basa sabun cair pencuci piring terhadap pewarnaan indigosol pada kain mori primissima. Canting J Batik Indones 2024;1:26–9. https://doi.org/10.31941/canting.v1i1.172.
Kharisma Subagyo P, Soelityowati S. Pengaruh Zat Pewarna Sintetis terhadap Pewarnaan Kain Batik. J Folio 2021;2:40–8.
Pradana SM, Zahra NZ, Mulyani RWE. Penentuan Kondisi Optimum NaCl Dan Na2CO3 Dalam Proses Pencelupan Kain Rajut Kapas-Bambu (60%-40%) Dengan Zat Warna Reaktif (Reactive Blue BRF). Texere 2023;21:5–12. https://doi.org/10.53298/texere.v21i1.01.
Harida H, Suhada S, Gerta R. Perbedaan Hasil Pewarna Alami dan Sintetis pada Benang dalam Pembuatan Sarung Sutra Mandar. J HomeEc 2021;16:69–74.
Hasanudin H, Lestari K. Pengaruh Suhu Dan Waktu Oksidasi Pada Proses Pencelupan Batik Kain Kapas Dengan Zat Warna Indigosol. Din Kerajinan dan Batik 1997;0:16–23.
Nabilasari RR, Widihastuti W. Pengaruh Formila Pencampuran Zat Warna Indigosol Oranye HR dengan Kuning IGK Terhadap Warna yang Dihasilkan Pada Pencelupan Kain Mori Primissima, Sutra, dan Satin. Pros Pendidik Tek Boga Busana 2021;16.
Babsel MCA, Maghfiroh M, Lestari R. Perbandingan efektivitas senyawa logam alkali sebagai zat cabut warna golongan reaktif pada batik. Canting J Batik Indones 2024;1:1–5. https://doi.org/10.31941/canting.v1i1.165.









