Pengaruh konsentrasi asam sulfat terhadap pewarnaan zat warna asam pada kain sutra ATM dan ATBM
DOI:
https://doi.org/10.31941/canting.v2i1.321Keywords:
Asam Sulfat, Daya Tahan Luntur Warna, Kain Sutra ATBM, Kain sutra ATM, Zat Warna AsamAbstract
Sutra yang diproduksi dengan teknik ATM (Alat Tenun Mesin) memiliki struktur serat yang lebih seragam dan konsisten karena proses mekanis. Sebaliknya, kain sutra ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin), yang dihasilkan cenderung memiliki tekstur dan ketidaksempurnaan kerapatan serat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh konsentrasi larutan asam sulfat (H₂SO₄) terhadap kualitas pewarnaan kain sutra menggunakan zat warna asam pada dua jenis kain, yaitu kain sutra ATBM dan kain sutra ATM. Uji kelunturan warna terhadap pencucian sabun (nilai kelunturan dan penodaan), gosokan kering, dan gosokan basah dilakukan untuk mengevaluasi daya tahan warna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi asam sulfat yang berbeda (4 cc/l, 6 cc/l, 8 cc/l, dan 10 cc/l) tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap daya tahan warna kedua jenis kain, yang tetap berada pada skala 4–5. Namun, kain sutra ATBM menghasilkan warna yang lebih gelap dibandingkan kain sutra ATM, meskipun menggunakan resep pencelupan yang sama. Hal ini disebabkan oleh perbedaan struktur serat, teknik pembuatan kain sutra, dan jenis bahan baku pembuatan kain sutra. Kesimpulannya, struktur kain dan teknik pembuatan kain berperan penting dalam menentukan intensitas warna. Temuan ini memberikan wawasan dalam meningkatkan kualitas pewarnaan kain sutra sebagai produk tekstil unggulan.
References
Kharisma Subagyo P, Soelityowati S. Pengaruh Zat Pewarna Sintetis terhadap Pewarnaan Kain Batik. J Folio 2021;2:40–8.
Harida H, Suhada S, Gerta R. Perbedaan Hasil Pewarna Alami dan Sintetis pada Benang dalam Pembuatan Sarung Sutra Mandar. J HomeEc 2021;16:69–74.
Luran NF, Tahara T, Astuti S. Perubahan Makna dan Simbol Pada Motif Kain Sutera pada kalangan Remaja Bugis di Kabupaten Wajo. J Mhs Antropol 2022;1:91–116. https://doi.org/10.31947/jma.v1i2.24059.
Failisnur F, Sofyan S. Sifat tahan Luntur dan Intensitas Warna Kain Sutera dengan Pewarna Alam Gambir (Uncaria Gambir Roxb) pada Kondisi Pencelupan dan Jenis Fiksator yang Berbeda. J Litbang Ind 2014;4:1–8.
Teowarang JR, Hutama K, Sunarya YY. Pemanfaatan Tenun ATBM Sutra Fabrikasi Kabupaten Pasuruan Pada Women’s Wear Sustainable Fashion Untuk Pasar Australia. J Seni dan Reka Ranc 2023;6:193–212. https://doi.org/10.25105/jsrr.v6i2.17749.
Maghfiroh M, Mutadin M, Astuti SP. Analisis Kualitas Dan Ketahanan Luntur Warna Batik Hasil Proses Reuse Sisa Larutan Celup Zat Warna Sintetis Golongan Bejana Menuju Green Industry. J PENA 2020;34:24–31.
Fajriah Y, Hamiddin MI, Arianti R, Syamsu N, Djunaid R, Dahrul A, et al. Pelatihan Peningkatan Penjualan Kain Tenun Sutra Di Desa Tanjung Bira Bulukumba. KREASI J Inov dan Pengabdi Kpd Masy 2023;3:243–50. https://doi.org/10.58218/kreasi.v3i2.644.
Hakim LM. Batik Sebagai Warisan Budaya Bangsa dan Nation Brand Indonesia. Nation State J Int Stud 2018;1:61–90. https://doi.org/10.24076/nsjis.2018v1i1.90.
Puspasari AN, Haris H, Baharuddin A, Aslinda A, Darwis M. Peningkatan Daya Saing Produk UMKM Pengrajin Sutera Kecamatan Tanasitolo Kabupaten Wajo (Studi Kasus Pada Pengrajin Sutera Kecamatan Tanasitolo Kabupaten Wajo). J Ilmu Adm Bisnis 2022;1:35–42.
Pradana SM, Zahra NZ, Mulyani RWE. Penentuan Kondisi Optimum NaCl Dan Na2CO3 Dalam Proses Pencelupan Kain Rajut Kapas-Bambu (60%-40%) Dengan Zat Warna Reaktif (Reactive Blue BRF). Texere 2023;21:5–12. https://doi.org/10.53298/texere.v21i1.01.









